One Flew Over The Fourth Floor

Kekecewaan Pembaca Maryamah Karpov

Posted by: husni on: Desember 26, 2008

Ini saya ambil dari milis tetangga..bukukita.com

saya belum baca dan juga agak sedikitĀ  over expectation sama nih novel..

mudah – mudahan aja Bang Andrea tidak kehilangan sense yang bisa membuat kita menangis sekaligus tertawa itu..

Oleh Teguh Priyanto

Jakarta (ANTARA News) – Tunai sudah janji Andrea Hirata pada para penggemar
novel tetralogi Laskar Pelangi. Hajatnya mempersembahan novel pamungkas
“Maryamah Karpov” yang ditunggu-tunggu pencandunya sejak pertengahan tahun
2008, akhirnya terlaksana akhir November lalu.

Novel setebal 504 halaman diluncurkan penulis asal Pulau Belitong itu dalam
pesta sederhana di MP Bookpoint di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.

Kepada para pengagumnya Andrea berujar, “Kawan, aku tak bohong kan? Sekarang
aku penuhi janjiku, kupersembahkan `Maryamah Karpov` untuk kalian.”

“Maryamah Karpov” menjadi novel paling ditunggu penggemar novel Laskar
Pelangi karena jauh-jauh hari Andrea Hirata telah mengisyaratkan bakal
mengobati rasa penasaran pembaca tentang akhir kisah kesepuluh murid-murid
SD Muhamadiyah Gantong di pulau timah, Belitong.

Dalam tiga novel terdahulu, nasib Lintang, Mahar, Ikal, Syahdan, Samson,
Sahara, Harun, Kucai, Flo, dan Akiong serta sepupu Ikal, Arai, memang
“digantung” Andrea.

Si jenius Lintang, misalnya, nasibnya dikisahkan terjerembab hanya menjadi
supir truk, sebuah epilog yang sama sekali tak adil bagi orang secemerlang
Lintang.

Ikal juga tak kunjung bersua dengan Aling, gadis Tionghoa yang digandunginya
sejak masa kanak-kanak dan telah dicari-cari seantero Eropa, bahkan Zaire di
Afrika. Atau Aria yang selalu dililit kisah kasih tak sampai dengan wanita
pintar berwajah tegang, Zakia Nurmala.

Dua laman pribadi Andrea Hirata, www.sastrabelitong. multiply. com dan
www.renjanaorganize r.multiply. com, hampir saban hari disesaki surat
elektronik yang bertanya tentang kisah pamungkas anak-anak Laskar Pelangi.

Kepada para penggemarnya Andrea menyeru, “Kalian akan temui jawabannya di
Maryamah Karpov.”

Sontak saat “Maryamah Karpov, Mimpi-mimpi Lintang” diluncurkan, ratusan buku
yang dijajakan di serambi kedai buku itu, ludes diserbu pecintanya.

Saat pertama kali diluncurkan, Laskar Pelangi terlanjur ditempatkan sebagai
novel memoar yang memuat kisah nyata sang penulis, Andrea Hirata.

Laskar Pelangi mendapat tempat khusus di mata pembaca dan bahkan dinobatkan
sebagai buku paling inspiratif karena pembaca percaya tokoh-tokoh Laskar
Pelangi senyatanya memang ada.

Guru paling berdedikasi NA Muslimah Hafsari, Kepala sekolah nan bersahaja
Harfan Efefendi Noor, Lintang, Arai, juga terlanjur menjelma menjadi idola,
yang sama sekali berbeda dengan superhero rekaan seperti Batman, Superman,
Spiderman, James Bond atau Harry Potter.

Muslimah Hafsari, yang hingga kini masih mendedikasikan diri menjadi
pengajar di Tanah Belitong mendapatkan banyak apresiasi dan penghargaan,
seperti Aisyiyah 2007 Award dari Pimpinan Pusat Aisyiyah, Yogyakarta, karena
dinilai gigih mengabdikan hidupnya demi sekolah di daerah miskin.

Namun kemunculan “Maryamah Karpov” mendekonstruksi seluruh kisah dan mimpi
yang terbangun dalam tiga novel terdahulu.

Maryamah Karpov sama sekali berlainan dengan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi
maupun Edensor, bahkan menyeret tiga novel terdahulu menjadi kisah rekaan
belaka.

Kendati mengaku saat menulis “Maryamah Karpov,” Andrea Hirata berusaha
menulisnya sebagaimana menulis novel perdana Laskar Pelangi. Namun sulit
menyangkal pendapat banyak orang bahwa “Maryamah Karpov” tak lebih dari
sebuah fiksi biasa yang harus diragukan jika diklaim memiliki landasan
historis yang cukup.

Bahkan pengakuan Andrea Hirata bahwa “Maryamah Karpov disusun berdasarkan
riset sosiologi dan mewakili realitasnya sebagai orang kampung melayu udik”,
tak dapat mengurangi apalagi menghapus keraguan itu. Karenanya, Maryamah
Karpov bisa disebut antiklimaks dari tetralogi Laskar Pelangi.

Daya gugah rendah

Alkisah setelah Ikal menyelesaikan studinya di Prancis, menggapai
sudut-sudut dunia dan memasuki pergaulan lintas bangsa, ia kembali ke
lingkungan asalnya yang bersahaja.

Maryamah Karpov menguak ironi; bahwa ilmu yang tinggi yang diperoleh dengan
susah payah tak membawa pengaruh signifikan bagi Ikal, apalagi kampung
halamannya.

Pada titik ini Maryamah Karpov menjadi sebuah antitesis bahwa pendidikan
ternyata tidaklah sepenting yang diperkirakan Lintang, Harfan ataupun
Muslimah.

Ikal kembali berbaur dengan kultur nenek moyangnya dan menemukan kembali
mozaik kenangan lama.

Maryamah Karpov sejenak membawa Ikal pada kesalehan kultural yang ditujukan
ayahnya, Seman Said Harun. Kisah tragis yang menimpa ayahnya, yang gagal
naik pangkat gara-gara tak sekolah, sebenarnya bisa menjadi pijakan yang
baik, agar cerita bergulirnya ke arah yang lebih menggugah.

“…dan detik itu aku berjanji pada diriku sendiri, untuk menempatkan setiap
kata ayahku di atas nampan pualam dan aku bersumpah, aku bersumpah akan
sekolah setinggi-tingginya, ke negeri manapun, apa pun rintangannya, apapun
yang akan terjadi, demi ayahku.”

Namun sayang, Andrea Hirata tak lantas membawa Maryamah Karpov ke dalam
cerita yang berdaya gugah lebih kuat, tapi justru terjerembab ke dalam drama
berbau mistis.

Cerita perahu asteroid dan petualangan Ikal di pulau lanun (perompak) yang
menyita banyak ruang di Maryamah Karpov menyebabkan novel pamungkas Laskar
Pelangi ini terlihat bertele-tele, lagi berlebihan.

Alhasil, Maryamah Karpov menjadi kehilangan ruhnya sebagai kisah yang oleh
Gangsar Sukrisno, coproduser Laskar Pelangi, disebut sebagai cultural
literary non fiction atau karya nonfiksi yang digarap secara sastra
berdasarkan pendekatan budaya. Sekaligus tercerabut dari spirit Laksar
Pelangi.

Tagline Maryamah Karpov, “Mimpi-mimpi Lintang”, juga tak mewujud dalam
spirit anak-anak Laskar Pelangi yang senantiasa menegakkan sumpah; sekolah
setinggi-tingginya demi mengangkat martabat kehidupannya. Bahkan
“Mimpi-pimpi Lintang” yang oleh Ikal diitasbihkan sebagai nama kapal
“asteroid”-nya, tak cukup mewakili spirit itu.

Sulit pula menemukan kaitan langsung antara Maryamah Karpov, sebagai judul
novel ini dengan bangunan cerita secara keseluruhan. Maryamah Karpov
sebenarnya adalah nama yang disematkan Andrea pada perempuan yang biasa
dipanggil Mak Cik.

Ia mendapat tambahan nama belakang itu, karena sering terlihat di
perkumpulan jago-jago catur di warung kopi “Usah Kau Kenang Lagi” dan
mengajari orang langkah-langkah ala pecatur Rusia Anatoly Karpov.

Namun dalam bangunan kisah itu, nama ini terkesan tempelan saja. Hanya
sekitar tiga kali nama perempuan itu disebut. Entah apa alasan yang membuat
Andrea Hirata memberi judul itu.

Tapi yang jelas jika dalam Laskar Pelangi, Andrea bercerita tentang kisah
luar biasa yang dituturkan dalam bahasa yang sederhana, detil dan realistis.
Sebaliknya kisah Maryamah Karpov sebenarnya biasa-biasa saja, tapi Andrea
membuat metafora yang berlebihan sehingga menjadi tampak hiperbolik.

Simaklah adegan mencabut gigi yang dibuat bertele-tele, sungguh menjadi
titik lemah buku ini.

Namun demikian, membaca Maryamah Karpov tetap dapat menjadi acara yang
mengasyikkan karena pembaca akan disuguhi ketrampilan melucu Andrea Hirata
yang kian meningkat.

Maryamah Karpov juga penuh dengan guyonan satiris dan memuat potret orang
Melayu Belitong yang memiliki kebiasaan membual dan melebih-lebihkan cerita.

3 Tanggapan ke "Kekecewaan Pembaca Maryamah Karpov"

serius kau ini?? jadi begitukah??
ah cari sewaan buku lah gw

iya ….. saya juga ngerasa ada beberapa blooper di sana. Syahdan yang konon kabarnya masuk level CEO perusahaan komputer koq bisa2nya muncul di sana. Trapani kan masih dirawat, tiba2 muncul. Mahar katanya jadi budayawan di ending buku 1, koq jadi klenik lagi. Anak hokian itu siapa namanya? lupa …. kan udah nikah ama sahara, kenapa kesannya dia masih terikat sama mahar.

still, this is a good novel.
(well, perhaps my “satisfaction level” is a lil bit low. but since i can not make a better novel, i dont think i have right to judge the book as “not good”)
hehehehe…

Tinggalkan Balasan