Posted by: husni on: Desember 14, 2008
Setelah sekian lama, akhirnya saya tonton juga film itu, Tjoet Nja’ Dhien, one of the best movies ever made in Indonesia.Film ini juga merupakan karya awal dari sutradara senior kenamaan Indonesia, Eros Djarot dan film Indonesia pertama yang diputar di festival film paling bergengsi di dunia, Cannes Film Festival di Perancis.
Untuk sebuah film Indonesia, dalam pandangan saya, film ini mendekati sempurna.Ya walau terkadang didapati juga beberapa kekurangan yang sifatnya teknis.Namun, ini adalah film di tahun 1988 dimana pada masa itu film seks murahan dan horror tengah gencar – gencarnya beredar di Indonesia dan tentu saja teknologi perfilm-an di negara seperti Indonesia masih baru berkembang.Sama seperti ketika saya menonton salah satu film paling dikenal di India, Sholay (yang bahkan peringatan 25 tahunnya dirayakan) yang dibuat pada tahun 1975.Pada tahun jadul seperti itu, Ramesh Sippy telah berhasil membuat sebuah film yang sangat bergengsi dari segi teknikal walau dengan teknologi yang kurang memadai.
Di tahun 1988 sendiri, film ini mendapatkan piala citra untuk kategori aktris terbaik (Christine Hakim), penata musik terbaik (Idris Sardi) dan fotografi terbaik (George Kamarullah).Christine Hakim, tak perlu diragukan lagi aktingnya.Scene terbaik menurut saya adalah scene terakhir, ketika Tjoet Nja’ Dhien hanya bisa menggumamkan ayat – ayat Al-Qur’an dalam kebutaannya di bawah hujan yang sangat lebat di hutan pedalaman Aceh, ketika pasukan Belanda datang menyergap dan membunuh sebagian besar pasukannya.Kemudian datanglah Phang Laot, panglima kepercayaan Tjoet Nja’ yang membelot karena semata – mata tidak tahan melihat kondisi kesehatan Tjoet Nja’.Sebenarnya di sini saya berharap adegannya adalah Phang Laot dibunuh oleh Agam, anak kecil korban pembantaian Belanda yang diajarinya bagaimana cara menggunakan rencong.Tapi ternyata tidak..malah Tjoet Nja’ yang berusaha membunuhnya.
Raungan score dari Violinis kenamaan, Idris Sardi ditambah shoot daerah hutan di Aceh memang benar – benar sangat menyentuh.Satu hal lagi yang sangat saya kagumi adalah penggunaan bahasa Aceh dan Belanda dalam sebagian besar scene nya.Mengenai dialog, saya kira setiap anak muda di Republik ini wajb menonton film ini.Dialog dengan aksen Aceh yang tidak dibuat – buat dan bahasa tertata yang sarat makna memang benar – benar menggambarkan kehidupan masyarakat pada waktu itu.
sumedang=makam cut nyak dien
hohohoho
engakw dah tau makam cut nyak dien blom? datanglah ke kotaku heuheu….(di perempatan jalan sebelum makamnya da bakso yg terkenal, namanya bakso mas acil hehehe)
wuiiih…
soal “resensi” film, saya belum bisa lah ngalahin husni…
btw, the kite runner nya dah ketemu belum ni?
saya pinjem ya…
kamu punya film na??? mau duuuuuuunkkkkk
Desember 16, 2008 pada 10:33 am
mau minta filmnya….
ko gada film yang judulnya cut nyak moetia y…
kan kalo ada keren…bapakku memberiku nama supaya aku ky dia..
jadi pahlawan, hoho