Posted by: husni on: November 3, 2008
Saya ingat sekali.Malam itu hujan.Bersama salah seorang sahabat saya, kami makan nasi goreng di pinggiran jalan Tubagus Ismail.Sahabat saya itu bercerita kepada saya tentang ibunya, tentang penyesalannya pernah membentak ibunya..”ibu aku bukan anak kecil lagi..” gara – gara ibunya mengingatkannya akan satu hal yang sepele.Terus dengan segala keluguan dan kerendahan hati seorang ibu, ibunya menjawab..”Ibu cuma bisa mengingatkan itu, Nak!Mau mengingatkan belajar, kau sudah jauh lebih pintar dari ibu…mau mengingatkan shalat, shalatmu juga sudah jauh lebih baik dari ibu..”
Saya teringat diri saya.Saya anak yang paling mirip dengan ibu dari segi fisik.Bahkan sampai SMA masih ada orang yang bilang begini pas saya yang angkat telpon “Ibu, husninya ada??”saya anak yang paling dekat dengan ibu, sekaligus yang paling banyak dosanya.Saya ingat, waktu SMA…ibu pernah marah kepada saya karena saya lebih sering di luar daripada di rumah.Saya jawab dengan serius…”saya merasa kesepian, ga nyaman di rumah”…Ibu saya cuma menangis..kemudian pergi.
Jauh dari rumah..hidup sendiri di Bandung..membuat saya sadar…Ibulah manusia yang sangat saya sayangi dan rindukan.Ibu juga semakin menganggap saya dewasa.Ibu mulai berbagi kepada saya tentang soal – soal rumah – tangga…yaaah..hitung-hitung pembelajaran juga buat saya kalau berumah tangga nanti.Saya pun merasa tidak ada orang yang lebih pantas tahu rahasia – rahasia hidup saya selain ibu.
Saya berbagi dengan ibu tentang segala hal..ibu tahu seluruh jendela johari saya.Ketika pulang kemarin sewaktu lebaran…adik saya yang prempuan sambil menangis berlari ke saya…”jantung mama kumat..”seeer…darah langsung mengalir dari bawah ke atas kepala saya…saya langsung berlari ke kamar..saya dapati ibu..tergeletak di atas kasur..matanya basah…terbuka..bibir bagian atas digigit..ibu saya..wanita cantik yang sangat saya cintai itu..menahan sakit…Saya tak kuasa..biar saya saya Ya Allah yang menanggungnya..Jangan ambil dia sekarang..dosa saya masih banyak..kami belum pergi haji bersama…saya minta kedua adik saya yang ada di kamar unruk pergi..biarkan saya saja berdua dengan ibu..
Saya cuma menagis tanpa suara..saya tahu adik saya melihat dari jauh abangnya menangis…saya tidak tahu harus berbuat apa..ibu saya hanya bergumam..”mama gak papa..uda biasa kayak gini..”..saya tidak bisa tenang…mata ibu masih basah, tetap sambil menahan sakit…”mama ga apa – apa nak..”saya cuma cium rambutnya..rambut yang dulu suka saya cium – cium supaya bisa tidur..saya pijat tangan dan kakinya sambil baca shalawat…mata saya terus berair…jantung saya penuh, berat..
Akhirnya ibu pun tenang…saya peluk dia..saya tidur di sampingnya..kami berdua hanya diam..kemudian ibu bangkit dari tempat tidur..saya tetap tidak bersuara..saya ikuti ibu ke bawah…ibu buka tivi, TPI nonton sinetron Ta’aruf..sinetron tentang Sakinah (Gee..I hate this very much..), wanita bercadar yang dengan sangat bodoh membiarkan dirinya ditindas orang lain dan mencoba mencari pembenaran atas kebodohannya atas nama kesholehan.Alhamdulillah, berarti ibu sudah baikan…Ram Punjabi..thanks.Sebelum saya terserang maag aku karena stress nonton sinetron itu..saya pergi ke ruang keluarga.Baca buku sendirian.
Ibu punya ikatan batin yang sangat kuat dengan saya.Pernah ayah memanggil saya hingga 4 kali, tapi saya ga denger – denger.tapi waktu ibu yang manggil..sekali aja saya langsung denger.
Ibu pernah bilang, “Istri itu bisa berubah (tolong jangan di koma di sini) tapi Ibu itu tetap selamanya..” benar…Iu itu tak tergantikan..
Boleh jadi kita lebih pintar, lebih shalih dari IBu…tapi seumur hiduppun kita gendong dia, kita layani..jasanya takkan tergantikan…
buat ibu yang sedang nyetrika di rumah..jangan nonton sinetron itu lagi…Ditipuin kita Mam sama si Punjabi itu…teriring salam penuh rindu dan cinta dari ananda…semoga Allah mengumpulkan kita di surga…sekeluarga…bersama menantu mama juga…amiin
November 3, 2008 pada 1:32 pm
saya pikir tadi siang, Husni memang lagi berbincang dengan orang yang dia ajak bareng makan siang ataupun yang secara tidak sengaja berpapasan di jalan menuju sanggar dan bercengkrama serius tentang hidup setelah lima menit kedepan, satu hari kedepan, satu bulan kedepan, satu semester kedepan dan satu satuan waktu lainnya kedepan. namun, siapa yang sebegitunya membicarakan hal-hal diatas atas masa depan selain saya yang secara ter’sepet’ mendapatkan percakapan yang sama beberapa saat sebelumnya dari arah kokesma ke sanggar.
percakapan dengan seorang ibu lewat segenggam telepon dengan provider yang cukup baik memberikan tarif cuma2 demi membayar anak di bawah umur blasteran blaster jerman dan pemain piano jazz yang bahkan ayahnya lebih melegenda untuk menarik pelanggan.
sekian saya istirahatkan pikiran untuk sekedar berlari dari morfologi bumi, peta berwarna-warni dengan tarikan garis A-B dan beberapa sesar yang terputar dalam rotasi.
wass,
nb: sehat selalu Mam.